RTOP
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Oktober 2010

Cerita Pendek

Ada Seorang teman namanya Manu'-manu' Pattang mengirimkan sebuah cerita islami yang enak di baca, saya menampilkannya di blog spaya teman-teman yang lain berkesempatan membacanya.
Tema-teman sekalian mari kita baca dan sikapi cerita berikut.



SRIKANDI ARAB

Wahai para penghuni tenda ! bergegaslah !
lipat tenda kalian ! kafilah telah siap menunggu !
Suara genderang telah ditabuh, Diatas punggung unta mereka telah siaga !
HANYA sedikit sarjana sejarah Islam yang tidak mengakui prestos yang diraih khalifah-khalifah dinasti Umayyah. Tetapi tidak banyak orang yang tahu bila Hindun, nenek moyang khalifah-khalifah ini, terkenal di seluruh semenanjung Arab karena keberaniannya dalam melawan maupun membela Islam.
Kita tahu persis beberapa jumlah orang yang meraih kehormatan sebagai syahid karena di bunuh oleh Hindun muda. Para sejarawan tidak mencatat sedikitpun tentang peristiwa-peristiwa berbahaya yang telah ditimbulkan oleh Hindun muda.
Penelitian para sarjana tidak mampu mengungkap berapa kendi air yang harus diminum oleh Abu Sufyan, demi menghilangkan rasa takut setelah ia melihat keganasan Hindun muda.
Tetapi yang penting dari semua itu adalah bahwa medan-medan peperangan di wilayah Arab merasa ngeri melihat keganasan Hindun muda dalam mengisi lembaran-lembaran penting dalam sejarah Arabia.
Penyiksaan yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy telah menyebabkan Rasulullah harus mengungsi ke Madinah. Namun Rasulullah tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk menikmati ketenanan hidup sekalipun beliau berada di tempat yang jauh. Sambutan baik penduduk Madinah dan keberhasilan beliau dalam membangun kekuatan telah menyebabkan kemarahan dan kecemburuan kaum Quraisy. Mereka mengirimkan balatentara guna menghancurkan Rasulullah dan para pengikutnya.
Akibatnya, terjadilah perang Badar yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Salah seorang putra Hindun yang bertempur di pihak pasukan Mekah terbunuh dalam insiden tersebut.
Kekalahan yang memalukan ini hanya menambah kemarahan kaum Quraisy. Karenanya, mereka mengumpulkan kekuatan dan mengirimkan ekspedisi militer untuk menyerbu Madinah.
Hindun yang punya dendam kesumat ikut merekrut pasukan khusus wanita. Mereka berasal dari kalangan wanita bangsawan Quraisy. Di bawah pimpinannya, pasukan ini bergabung dengan rekan-rekan mereka menuju Madinah. Mereka melakukan marching sembari bernyanyi menyanyikan lagu peperangan.
Kaum Muslimin berkumpul di bukit Uhud untuk mempertahankan kedaulatan mereka. Sebelum pasukan Mekah menyerang pasukan Muslim, Hindun dan pasukan srikandinya berdiri di depan mereka dan menyanyikan syair.
Kami adalah anak-anak matahari pagi
Kami melangkah di atas permadani beludru
Kami menyambut mereka dengan kalungan bunga
Yang maju ke medan tempur dengan hati yang tak pernah kecut
Kami dekap mereka dengan penuh cinta ke dada kami
Tetapi kami tendang mereka untuk selamanya
Tinggalkan medan layaknya pengecut.
Tergerak oleh ucapan yang merendahkan itu, orang-orang Mekah menerjang pasukan Muslim. Hindun dan pengikut-pengikutnya berdiri di belakang mereka seraya tetap mendendangkan: 

Majulah kawan! majulah !
Putra-putra pahlawan majulah !
Pegang pedang kalian erat-erat !
Bunuh musuh sampai kepala terakhir
Biarkan bendera kebanggaan kalian berkibar di angkasa
Jadikan medang perang kosong dari para musuh
Majulah kawan, majulah !
Putra halilintan, majulah !
Kedua pasukan bertempur mati-matian hingga medan Uhud banjir darah dan mayat. Hamzah, paman Rasulullah, gugur dalam pertempuran itu. Hindun membelah jenazahnya, mengambil jantungnya, memamah dan memuntahkannya kembali. Ia juga memotong hidung dan telinga pasukan muslim yang tewas dan merangkainya menjadi kalung. Dengan bangga Hindun memakai rangkaian anggota tubuh manusia itu, menari dan menyanyi.:
Puas sudah rasa haus darah yang menyerang jiwa
Padam sudah bara dalam dada
Hindun, kini roh anakmu telah terbebaskan
Kembali pulanglah segera ke rumah !
Tujuh tahun setelah peristiwa Uhud, masa-masa kegelapan Islam telah berlalu. Rasulullah berhasil menaklukkan Mekah dan mendeklarasikan pengampunan massal kepada musuh-musuh beliau. Tersentuh oleh keluhuran budi Rasulullah, orang-orang Mekah berkumpul di hadapan beliau dan menyatakan syahadat.
Hindun tidak tinggal diam. Dia datang bersama pengikut-pengikutnya menghadap Nabi dan menyatakan masuk Islam. Rasulullah memberi mereka nasehat seraya berkata:
“Berjanjilah bahwa kalian tidak akan berbohong dan melakukan zina.”
“Wahai Rasulullah, mungkinkah wanita terhormat melakukan hal itu ?” Tanya Hindun.
“Alangkah baiknya kalau kalian tidak melakukannya. Berjanjilah bahwa kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian” lanjut Rasulullah.
“Kami yang membesarkan mereka. Kalianlah para lelaki yang membawa mereka ke medan perang dan membunuh mereka.” Jawab Hindun lagi.
Rasulullah menatap si pembicara, “Apakah kamu Hindun?”
“Benar Wahai Rasulullah.”
“Baiklah kalau begitu, jangan ijinkan lagi lelaki kalian membunuh mereka. Berjanjilah juga bahwa kalian tidak akan mencuri.”
“Kadang-kadang aku melakukan hal ini, tetapi aku mencurinya dari dompet suamiku; apakah itu juga termasuk pencurian ?”
Rasulullah tersenyum, “Bukan, itu bukan mencuri, tetapi jangan menggunakan uang suami secara berlebihan.”

Rabu, 15 September 2010

Kisah Wong Fei Hung

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri.

Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites